SEJARAH KOREM 072 TTD

Diposting Pada Tanggal 26 Desember 2016 Admin
img

SEKITAR SEJARAH KOREM 072

Oleh : Widodo (Jendral Purn)

 

Penjajahan Belanda selama 350 tahun, melahirkan pejuang-pejuang bangsa dari berbagai daerah di Indonesia. Pada tanggal 28 Oktober 1928 lahirlah Sumpah Pemuda yang menciptakan Satu Negara, Satu Bangsa dan Satu Bahasa.  Ini merupakan babak baru bagi perjuangan nasional kita. Pada tahun 1917 Abdul Muin dan kawan-kawan mengajukan petisi kepada Volkstraad agar pemerintah Belanda mengadakan wajib militer kepada orang-orang pribumi. Tetapi petisi tidak pernah di tanggapi. Baru pada tahun 1938 pada waktu Belanda merasa terancam oleh Jepang pertama kalinya, Pemerintah Hindia Belanda mendirikan Sekolah Perwira dalam rangka wajib militer untuk orang-orang pribumi di Jatinegara, Jakarta. Alumni dari sekolah ini antara lain, pak Urip Soemohardjo almarhum.

Pada tahun 1943 semasa pendudukan Jepang, diadakan Tentara Pembela Tanah Air (PETA). Tentara PETA ini seluruhnya mulai dari prajurit, bintara dan perwiranya, terdiri dari orang-orang pribumi Pemuda-Pemuda Indonesia. Didalam tentara PETA ini pemuda selain mendapatkan pendidikan tehnis militer  pada tingkatan regu, peleton dan kompi, maka para pemuda ini telah mendapatkan bimbingan dari para tokoh pergerakan Nasional maupun tokoh agama yang berpengaruh di kota-kota dimana para pemuda di tugaskan.

 

Akibat bimbingan untuk mempersiapkan kemerdekaan ini lah timbul rasa benci terhadap pendudukan tentara Jepang. Akhirnya terjadi pemberontakan tentara PETA dari Daidan Blitar pada tanggal 14 Februari 1945 dan disusul dengan pemberontakan di berbagai kesatuan tentara PETA di kota lainnya. Inilah panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia telah mengadakan rapat untuk mempersiapkan Kemerdekaan Indonesia.

 

PERISTIWA RENGASDENGKLOK

Pada pertengahan bulan Agustus 1945 para pemuda di Jakarta merencanakan revolusi rakyat untuk merebut kekuasaan dari tangan Jepang karena sudah di ketahui Jepang sudah menyerah pada Sekutu. Para pemuda itu (Daidan) Batalyon Jakarta berpendapat, kalau apa betul revolusi terjadi, maka Bung Karno dan Bung Hatta sebagai pemimpin bangsa harus diselamatkan dari kemungkinan Pihak Ketiga (Jepang). Akhirnya beberapa Perwira Daidan Jakarta pada tanggal 15 Agustus 1945 sore hari diutus menghadap Bung Karno dan Bung Hatta untuk meyakinkan beliau tentang kemungkinan bahay pembersihan dari pihak Jepang. Akhirnya kedua beliau itu menyetujui rencana pengungsian ini dan pada malam itu juga beliau diungsikan oleh tentara PETA dengan ber-uniform dan memakai kendaraan PETA ke Rengasdengklok. Dalam rombongan Bung Karno dan Bung Hatta yang ikut ialah Ibu Fatmawati, Guntur dan hanya seorang tokoh pemuda bernama Sukarni.

Selama di Rengasdengklok tidak ada pembicaraan dengan siapapun, beliau mendengarkan berita radio luar negeri yang menyiarkan tentang berita kekalahan Jepang. Beliau juga sempat meninjau kesiapan tentara PETA dan kesiapan rakyat yang menginginkan kemerdekaan. Karena revolusi tidak dapat di cetuskan, maka pada tanggal 16 Agustus 1945, beliau kembali ke Jakarta.

PROKLAMASI KEMERDEKAAN

Pada tanggal 17 Agustus 1945 Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia menyatakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke seluruh penjuru dunia. Gema proklamasi ditanggapi dengan penuh antusiasmedi seluruh pelosok tanah air. Rakyat dimana-mana bergembira dan para pemuda telah bertekad untuk mempertahankan Proklamasi ini dengan secara konsekwen. Proklamasi kemerdekaan telah membakar semangat rakyat untuk membela Negaranya. Merdeka atau Mati.

Di Yogyakarta, Sri Sultan HB IX dan Sri Paku Alam VIII telah menyatakan bahwa Yogyakarta merupakan bagian dari Republik Indonesia. Rakyat berbondong-bondong berkumpul di tempat-tempat yang telah di tentukan untuk melucuti tentara Jepang dan merebut kekuasaan tentara Jepang dari bumi pertiwi ini.

 

PELUCUTAN SENJATA JEPANG DI KOTA BARU

Pada permulaan bulan Oktober KNI Yogyakarta telah berunding dengan tentara Jepang untuk membicarakan penyerahan senjata Jepang kepada rakyat Yogyakarta. Perundingan berjalan alot dan pihak Jepang tidak mau menyerahkan senjatanya.

Pada tanggal 07 Oktober 1945 dini hari ada perintah siap yang tersebar ke seluruh kampung-kampung. Kemudian ada perintah supaya rakyat mengepung asrama Jepang Kota Baru dan melucuti senjata Jepang. Tanpa di perintah, ribuan rakyat Yogyakarta mengepung kotabaru ditutup rapat.

Pada jam 05.00 pagi tiba-tiba pelayanan mesin yang sedang di jaga di pintu gerbang gudang senjata berteriak supaya rakyat masuk. Tanpa piker panjang rakyat berbondong-bondong memasuki pintu gerbang pihak Jepang telah melepaskan senapannya tanpa ampun dan mengakibatkan 21 orang gugur dan puluhan lainnya luka berat dan ringan. Tetapi rakyat tidak gentar dan terus menyerbu dengan senjata bamboo runcing.

Mereka berhasil membuka senjata senapan mesin jepang dan pengawal-pengawal jepang dan akhirnya senapan mesin dibalikkan kearah asrama jepang. Bertempuran tembak menembak terjadi akan tetapi akhirnya jepang menyerah. Jepang dikumpulakn dilapangan  di depan RST sekarang dan gudang gudang senjata diserbu rakyat dan rakyat memilih sabisenjata dan isi gudang hampir habis. Sisa gudang diperintahkan untuk dibawa ke benteng Vrederburg. Atas perintah BKR akhirnya tawanan jepang dipindahkan di tamp pir ,Boyolali.

Setelah penyerbuan kotabaru akhirnya BKR yogyakarta memanggil pemuda pemuda yang memiliki senjata untuk mendaftarkan diri  sebagai anggota BKR. Ratusan pemuda mendaftarkan diri dan akhirnya terbentuklah batalyon-batalyon BKR pertama pada bulan oktober itu juga.

Disamping itu terbentuklah komando resimen 1 di yogyakarta yang akan memegang komando atas batalyon-batalyon yang ada.

 

PENYERBUAN Ke LAPANGAN MAGUWOHARJO

Pada bulan oktober itu juga, pada batalyon 10 mendapat perintah merebut dan menduduki lapangan terbang maguwoharjo. Dalam waktu satu hari lapanga terbang berhasil direbut dan merampas senjata barat. Ringan serta pesawat terbang.

Perlu dicatat, bhwa segera setelah Proklamasi Kemerdekaan             17 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dalam sidang pada tanggal 22 Agustus 1945 memutuskn pembentukan KNI, PNI dan BKP.

Perlu dicatat,BKR meruppakan badan penolong keluarga korban perang (BPKKP) yang dibentuk oleh badan pembantu prajurit ini telah dibentuk sejak masa pendudukan jepang dengan tujuan membantu anggota keluarga tentara peta dan heiho.

Dengan demikian BKR sebenarnya belum merupakan tentara melainkan korps bantuan setempat untuk menjamin ketentraman Umum,tetapi kenyataan yang menjamin ketentraman umum yang juga sebagai cikal bakal TNI. Selain membantu juga mendorong memimpin dan memutar roda perjuangan.

Pada tanggal 14 Oktober 1945 meletuslah pertempuran lima hari di semarang. Pertempuran ini meletus akhibat reaksi tentara jepang terhadap usaha para pemuda pejuang untuk melucuti senjata tentara jepang yang tidak berhasil.

Dari yogyakarta dikirim Batalyon 10 untuk membantu pertempuran di semarang.

Pada bulan november 1945 tentara Inggris sebagi wakil dari tentara sekutu telah mendarat di ibukota Jakarta dan di pantai utara pulau jawa dan surabaya

Pendaratan tentara Inggris ini dalam rangka melucuti tentara jepang dan mengevakuasi tawanan sekutu dalam PD ll disekap jepang. Tetapi tentara inggris tidak tahu bahwa tentara jepang sudah dilucuti oleh rakyat indonesia dibawah pimpinan BKR. Oleh karena pendaratan tentara inggris di surabaya mendapat perlawanan rakyat surabaya dibawah pimpinan TKR jawa Timur. Peristiwa ini dikenal dengan nama pertempuran 10 november.

Pendaratan di jawa tengah inggris dibiarkan bergerak maju sampai di magelang. Dimagelang tentara inggris mendapat perlawanan yang hebat dari TKR. Dari yogya resimen I Batalyon 10 untuk membantu menggemppur tentara inggris karena terkepung tentara inggris mengundurkan diri dari Ambarawa. Pengejaran dilakukan oleh TKR dan akhirnya terjadilah peristiwa Palagan Ambarawa.

Ambarawa terkepung dari segala jurusan. Bantuan datang dari Jawa Tengah selain pasukan dari kedu dan semarang, datang bantuan dari sala dan banyumas resimen I mengirim 3 Batalyon ialah Batalyon 8 dibawah pimpinan Mayor Sarjono, Batalyon 10 dibawah pimpinan Mayor Soeharto(Presiden sekarang) danTRM(Tentara Rakyat Mataram) dibawah pimpinan Bung TarjoPada tanggal 15 Desember 1945 Ambarawa jatuh ketangan TKR untuk pertama kalinya tentara TKR terkoordinasi dalam menghadapi tentara inggris dalam pertempuran di Ambarawa.

 

Dalam menghadapi memuncaknya perjuangan nasional khususnya dalam menghadapi teror inggris dan NICA didaerah yang diduduki maka pemerintah indonesia membentuk tentara kebangsaan dengan meresmikan BKR menjadi tentara keamanan Rakyat melalui maklumat pemerintah pada tanggal 5 Oktober 1845. TKR mempunyai tugas untuk mengamankan negara dan rakyat dari gangguan teror tentara inggris yang ternyata diboncengi NICA. TKR telah mempunyai unsur darat,lau,udara dan kepolisian. Disamping TKR dibentuk juga laskar rakyat sebagai organisasi perlawanan rakyat untuk melaksanakan pertahankan dan keamanan negara RI.

Laskar Rakyat pada garis besarnya ada dua golongan:

1.Laskar politik yang tidak dijiwai politik,

2. Laskar yang dibentuk oleh partai politik sebagai akhibat maklumat pemerintah

 

TENTARA KESELAMATAN RAKYAT

Dengan penetapan pemerintah no.2/SD tertanggal 2 Januari 1946 Tentara Keselamatan Rakyat dengan tugas pokok menyelamatkan Negara Republik Indonesia dan bahaya penjajahan yang mengancam kemerdekaan RI.

Pada permulaan tahun 1946 ini juga karena keamanan dijakarta yang tidak memungkinkan, maka Pemerintah RI pindah ke Yogyakarta, menjadi Kota Yogyakarta Ibukota Republik Indonesia.

 

Bertambahlah tugas divisi IX Istimewa Yogyakarta dengan resimen batalyonnya, setelah kembli dari Ambarawa, maka terjadi perubahan nama menjadi resimen 1 dan penggantian komandanya yogyakarta menjadi dua resimen dibawah pimpinan Letkol Pranoto dan resimen 22 dibawah Letkol Suharto. Resimen 21 bermarkas di kantor PT Expra Baru sekarang di gondolayu, sedangkan resimen22 bermarks di wiyoro5 KM sebelah timur kota.

 

TENTARA NASIONAL INDONESIA

Dengan penetapan presiden RI tertanggal 5 mei 1947 Laskar dan barisan rakyat bersenjata disatukan dengan TNI Darat menjadi TNI dengan sbutan TNI AD,TRI  Laut menjadi Angkatan Laut RI menjadi Angkatan Laut RI (ALRI) da TNI Udara menjadi Angkatan Udara RI (AURI), ketiga angkatan menjadi Angkatan Perang Republik Indonesia.

 

PERANG KEMERDEKAAN I

Pada tanggal 21 juli 1947  Belanda melancarkan Agresi kolonial yang pertama dengan tujuan untuk meruntuhkan Republik Indonesia dengan sasaran menduduki daerah-daerah yang mempunyai potensi ekonomis, terutama daerah perkebunan,serbuan kilat Belanda telah berhasil menerobos sistim linear kita yang terdiri dari lini 1 dan lini 2 serta garis belakang. Di jawa tengah Belanda berhasil menduduki ambarawa dan salatiga.

Menyadari kesalahan sistem pertahanan linear ini kita beralih kepada prinsip perjuangan dan merupakan hakiki perlawanan gerilya semesta yaitu 2 front ada dimana. Atas dasar itu maka TNI menyusun kantong gerelya yang digerakan oleh kader desa,komando order distrik militer untuk menegakkan Republik Proklamasi dengan jalan perang Gerilya Rakyat Semesta.

Inilah cikal bakal “ Wehrkreise” yang selanjutnya kita pakai dalam perang Kemerdekaan II. Agresi Kolonial Belanda ini telah mengundang campur tangan PBB yang kemudian membuahkan persetujuan Renville pada tanggal 17 januari 1948. Salah satu keputusan utamanya adalah penarikan satuan TNI  dari daerah Kantong gerilya keseberangan garis Van Mook yang selanjutnya menghasilkan hijrah Divisi siliwangi ke yogya,solo, magelang dan devisi brawijaya harus  pindah kedaerah pedalaman.

 

PERANG KEMERDEKAAN II

Pada tanggal 19 desember 1949 yogyakarta dihujani bom oleh pesawat tempur belanda dan sementara itu pasukan payungnya telah didaratkan dilapangan terbang maguwo.

Sementara itu lebih dari 100.000 pasukan belanda dengan mempergunakan segala peralatan tempurnnya menerobos garis  de markasi yang ditatapkan sendiri dari segala penjuru menyerbuke dalam pedalaman RI. Dalam waktuyang singkat tentara belanda berhasil menduduki Ibukota RI Yogyakarta, melawanPresiden dan Wakil Presiden serta sejumlah menteri serta KSAU Suryadarman.

Panglima tertinggi AP Belanda pada awal bulan januari 1949 bahwa operasi sudah selesai sedangkan operasi pembersihan akan berlangsung selama 2 sampai 3 bulan. Demikian seolah-olah RI sudah hancur dan kemenangan akhir ada pada pihak Belanda. Tetapi kenyataannya pada tanggal 19 desember 1948 pemerintah pusat telah mengalihkan tanggungjawab dan kekuasaannya kepada pemerintah darurat RI di sumatera dibawah pimpinan Mr.Syaridin Prawiranegara dan TNI menyelenggarakan pemerintah militer di jawa. Sementara itu perang gerilya semesta mulai berkobar dimana-mana dan selanjutnya mulai berhasil melumpuhkan mobilitas tentara belanda.

 

SERANGAN UMUM 1 MARET 1949 DI YOGYAKARTA.

Sebagai akhibat dari perubahan system pertahanan, maka pada tahun 1948 permulaan diadakan reorganisasi pada TNI. Di Yogyakarta 2 resimen dilebur dan hanya ada satu. Resimen diganti dengan Bregade 10 dibawah pimpinan Letkol Suharto. Selama Perang Kemerdekaan II Komandan Brigade juga menjabat sebagi komandan Wehrkreise, jadi otomatis menjalankan pemerintah militer di Yogyakarta.

Selama perang kemerdekaan II telah diadakan empat kali serangan umum, tetapi selalu pada malam hari, serangan umum 1 maret 1949 dilancarkan pada pagi hari pada tanggal 1 maret 1949 dibawah pimpinan Letkol Suharto.

Yogyakarta berhasil direbut kembali meskipun hanya 6 jam saja. Pada pukul 12.00 tengah hari Komandan Wehrkreise III memerintahkan pasukan mundur kembali kedudukan semula. Serangan ini telah membukamata dunia Internasional, bahwa Republik Indonesia tetap tegak dan TNI tidak hancur. Kenyataan ini menyebabkan opini dunia memaksa belanda untuk kembali ke meja perundingan dan menghasilkan persetujuan Rum-Royen yang mengembalikan Ibukota Yogyakarta kepada RI dan konferensi meja bundar (KMB) yang memulihkan kedaulatan RI pada 27 Desember 1949.

 

OPERASI KEAMANAN DALAM NEGERI

Untuk masalah ini operasi pertama dari rsimen 22 terjadi pada bulan juli 1946, ialah peristiwa 3 juli 1946 dimana Tan Malaka Divisi IV Yogya Mayor Jendral Soedarsono.

Peristiwa didahului dengan penculikan perdana menteri Syahrir dan stafnya disolo. Akhibat dari peristiwa ini suhu politik didalam negeri menjadi meningkat. Setelah kompi ini kembali Batal Yon Soedjono pada malam harinya diperintahkan untuk melucuti Batalyon 64 dibawah pimpinan Mayor AK,Yusuf, sedang batalyon sarjono diperintah menutup perbatasan Yogya-solo. Batalyon 64 berhasil dilucuti, sedangkan Mayor AK,Yusuf dan Mr Iwa Kusuma Soemantri berhasil ditangkap oleh Batalyon Sardjono dikalasan.

Pada suatu hari dibulan oktober itu komandan resimen 22 mendapat perintah dari panglima divisi untuk menangkap dan menahan menteri pertahanan Amir Syarifudin. Kemudian Komandan Resimen 22 mendapat perintah langsung dari Presiden RI supaya menangkap dan menahan panglima divisinya sendiri Mayor Jendral Soedarsono. Masalah perintah ini kemudian dibicarakan dengan staff resimen dan akhirnya diputuskan untuk melaksanakan  perintah dari instansi yang lebih tinggi ialah pemerintah Presiden.

Pada malam hari Jendral Mayor Soedarsono diberitahu bahwa esok paginya beliau agar menghadap presiden dan di istana presiden telah menunggu perwira yang akan menangkap dan menahan Mayor Jendral Soedarsono.Inilah pengalaman politik pertama yang tidak menyenangkan dari resimen 22.

 

PENUMPASAN PEMBERONTAKAN PKI MUSO DI MADIUN (GERAKAN OPERASI MILITER I)

Pada saat Negara republik Indonesia sedang dalam keadaan gawat menghadapi kepungan belanda dari segala penjuru, kaum komunis melakukan pengkianatan dengan cara melakukan pemberontakan PKI Muso di madiun pada tanggal 18 september 1948 suatu tragedi nasional dalam sejarah perjuangan Kemerdekaan RI.

Pada hakekatnya pemberontakan PKI di madiun adalah suatu usaha untuk  menyelenggarakan perjuangan Indonesia dan Ideologi Pancasila dan diubah menjadi idiologi komunis. Tetapi berkat perlindungan Tuhan Yang Maha Esa, rakyat bersama TNI telah berhasil mengatasi percobaan yang dasyat itu dengan menghancurkan kekuatan bersenjata dan menumpas pemberontakan PKI dalam Waktu yang relative singkat, sedangkan Muso berhasil ditembak mati TNI masyarakat.

GERAKAN OPERASI MILITER III (PEMBERONTAKAN ANDI AZIZ)

Pada tanggal 5 April 1950 atas hasutan kaum federalis Dr.Soumokil cs Kapten Andi Aziz bersama pasukannya yang dibantu oleh pasukan KNIL dan PKI melakukan pemberontakan di makasar (sekarang ujung pandang) menawan panglima Indonesia timur dan staffnya serta berhasil menguasai Kota Ujung Pandang.

Komandan Brigade 10 beserta stafnya serta batalyon soedjono dikirm ke Sulawesi selatan untuk menggabungkan diri dengan pasukan expedisi dibawah pimpinan colonel kawilarang mendarat  didaerah Sulawesi selatan pada tanggal 26 april 1950. Operasi berlangsung sampai agustus 1950 pada saat seluruh kegiatan tentara belanda dan KNIL di Indonesia berakhir.

Disulawesi selatan brigade 10 ini dikenal dengan nama brigade garuda mataram.

 

GERAKAN OPERASI MILITER V (PEMBERONTAKAN DI/TII KARTOSOERYO DIJAWA BARAT DAN JAWA TENGAH BAGIAN BARAT).

Gerakan Darul Islam dibawah pimpinan kartosoerwiryo sebenarnya sudah dimulai sejak januari 1948 pada saat TNI melakukan hijrah meninggalkan kantong gerilya di jawa barat sesuai dengan persetujuan Renville,sedang pasukan Hisbullah/Sabillilah tidak mau mentaati perintah dan tetap tinggal dijawabarat membentuk gerakan Darul Islam (DI). Kemudian pada tanggal 7 agustus 1949 SM Kartosoewiyo selaku imannya menyatakan berdirinya Negara Islam Indonesia.

Ketika meletus Perang Kemerdekaan II tentara hijrah kembali ke kantong gerelya di Jabar disambut dengan maut oleh pasukan DI/TII maka pecahlah pertempuran segitiga antara TNI,gerombolan Kartosoewiryo dan pasukan Belanda.

Operasi membasmi gerombolan DI/TII Kartosoewiryo mulai dilancarkan sesudah  Negara Kesatuan RI terbentuk pada 17 Agustus 1950, namun pelaksanaannya setengah-setengah hingga gerombolan DI/TII Kartosoewiryo sempat membuat teror selama 12 tahun.

Baru setelah dekrit Presiden 5 Juli 1959, operasi terhadap gerombolan ini dilakukan secara intensif dengan menerapkan doktrin perang wilayah dengan sistim pagar betis TNI bersama-sama  rakyat mengepung sarang gerombolan sedemikian ketatnya, sehingga betisnya seolah-olah merupakan pagar yang tidak dapat diterobos. Untuk menumpas sama sekali gerombolan DI/TII, maka dilancarkan Operasi Barata Yudha, pada tanggal 4 Juni 1962 Kartosoewiryo dapat ditangkap dalam keadaan sakit parah tidak dapat berjalan lagi. Dalam bulan September keamanan Jabar sudah dapat dipulihkan kembali.

Dalam tahun 1951 terjadilah perubahan pada brigade. Brigade menjadi Resimen lagi dan di Yogya terbentuk Resimen 13 dengan Komandan Kolonel Sarbini. Selama operasai ini Resimen 13 mengirimkan batalyon-batalyonnya secara bergilir kebagian barat Jawa Tengah maupun Jawa Barat.

Wilayah Resimen 13 meliputi DIY, Surakarta dan Kedu.

 

PERISTIWA OPERASI MILITER VI (PEMBERONTAKAN DI JAWA TENGAH)

GOM VI menyangkut operasi terhadap 3 peristiwa pemberontakan pemberontakan Angkatan Umat Islam (AUI) dibawah pimpinan Kyai Somolangu dan Kyai Nursidik yang mulai meletus pada 1 Agustus 1950 didaerah Kebumen dan berhasil ditumpas dalam waktu kurang lebih 40 hari.

Kedua pemberontakan Batalyon 426 meletus pada tanggal 8 Desember 1951 ketika Kapten Sofiyan menolak menta’ati panggilan Panglima TT IV Diponegoro, sebaliknya dengan kekuatan 3 kompi dibawah pimpinan Kapten Alif mlakukan pemberontakan.

Dari dokumen yang berhasil disita ternyata dalam tubuh batalyon 423 dan batalyon 426 terdapat unsure DI/TII yang berusaha membawa kedua batalyon tersebut ke pihak Kartosoewiryo.

Operasi yang dilancarkan untuk menumpas pemberontakan ini berlangsung sampai Januari 1952 ketika pimpinan berakhir Kapten Alif  tertembak mati.

Sisa gerombolan melarikan diri selanjutnya memasuki daerah operasi Gerakan Banteng di Kerisidenan Pemalang, Tegal dan Brebes dengan kekuatan pasukan sebanyak 800 orang.

Komando Operai Gerakan Banteng(GBN) yang membawahi pasukan dari TT IV Diponegoro, Siliwangi dan Browijoyo baru dapat menumpas DI/TII di Jateng menjelang tahun 1957.

Dalam operasi seluruh batalyon dari Resimen 13 telah dilibatkan bersama dengan batalyon-batalyon dari Resimen lain.

 

PENUMPASAN PEMBERONTAKAN PRRI/PERMESTA

Dengan tujuan untuk membina persatuan dan kekompakan sebagai akibat perbedaan pendapat dan pandangan masa itu, maka daerah-daerah menyelenggarakan reuni antar Pejuang Kemerdekaan kemudian melahirkan Dewan-dewan didaerah sekitar tahun1956-1957. Di Padang lahir Dewan Banteng pada tanggal 20 Desember 19567 dipimpin oleh Letkol Ahmat Husein.

Pada tanggal 22 Desember 1956 di Medan dibentuk Dewan Gajah dipimpin oleh Kolonel M. Simbolon sedang di Menado pada tanggal 18 Maret 1957 dibentuk Dewan Manguni oleh Letkol Vance Sumual sedangkan di Sumatera Selatan usaha membentuk Dewan Garuda dipelopori oleh Letkol Barlian. Tindakan melanggat kontituti dimulai dalam uiud tuntutan daerah kepada Pemerintah Pusat untuk membangun darah dimulai oleh Dewan Banteng kemudian diikuti oleh Dewan Gajah dan Dewan Manguni hingga Kabinet Mr Ali Sastroamidjoyo ke 2 yang dibentuk sebagai hasil Pemilu 1955 Kabinet menyerahkan kembali mandatnya kepada presiden.

SOB diberlakukan oleh Presiden, usaha untuk menghidarkan pertumpahan darah dan perpecahan telah dilakukan, tetapi tidak memberikan hasil.

Pada tanggal 10 Febuari 1958 Ahmad Husein sebagai ketua Dewan Banteng di Padang mengeluarkan ultimatum kepada Presiden dan Kabinet Juanda.

Pada  tanggal 11 Pebuari 1958 Pemerintah menjawab ultimatum tersebut dengan pemecatan tidak hormat atas diri Letkol Ahmad Husein dan kawan-kawan.

Pada tanggal 15 Pebuari 1958 Ahmad Husain sebagai Dewan Banteng memproklamirkan apa yang dinamakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia(PRRI) di Padang dengan Mr. Syarifudin  Prawiranegara sebagai Perdana Menteri. Maklumat pembentukan PRRI didukung oleh Simbolon di Sumatera Utara pada tanggal 19 Pebruari 1958. Di Menado Letkol Somba selaku penguasa militer Sulawesi Utara dibawah pimpinan Permesta( Perjuaqan Semesta).

 

Untuk menghancurkan pemberontakan PRRI/PERMESTA dilakukan operasi gabungan berupaya rangkaian operasi:

Operasi Tegas didaerah Riau daratan dan Pekan Baru.

Operasi Sapta Marga didaerah Medan/Sumatera Utara dan Tapanuli.

Operasi 17 Agustus di daerah Sumatera Barat.

Operasi Sadar untuk mengamankan daerah Sumatera Selatan.

Operasi Merdeka untuk menghancurkan PERMESTA di Sulawesi Utara.

Dalam operasi 17 Agustus batalyon dari Resimen 13 diikut sertakan.

Perjuangan bersenjata membebaskan Irian Barat. (Operasi Trikora dan Operasi Dwikora).

Dalam operasi terakhir ini satuan-satuan sari Resimen 72 tidak dilibatkan.

 

KEPEMIMPINAN MILITER

Tujuan kepemimpinan TNI AD adalah seni untuk membawa dan mempengaruhi operasi ABRI TNI AD menuju mencapaian sasaran kepentingan dengan baik yang akan meliputi pelaksanaan tugas pokok   se-efisien mungkin.

Sedang sasaran Kepemimpinan TNI-AD adalah TNI-AD yang efektif, mempunyai semangat yang tinggi dan jiwa Korsa yang kuat, untuk dapat dikerahkan dalam rangka pelaksanaan tugas pokok TNI-AD.

Kepemimpinan Pancasila mengutamakan nilai moral/moril/mental tinggi serta sifat kreatif, aktif berwibawa dan bijaksana.

Mengingat adanya dua bidang tugas pokok TNI-AD dalam kedudukan dan peranan sebagai kekuatan militer dan kekuatan sosial, maka kepemimpinan TNI-AD bercirikan:

Dalam bidang militer akan lebih dititikberatkan kepada cirri kepemimpinan otoriter kostruktif.

Dalam bidang sosial akan lebih dititik beratkan kepada ciri kepemimpinan demokratis kosruktif. Angkatan Bersenjata Repubik Indonesia (ABRI)

Dengan perubahannya Polisi Indonesia dari Jawatan Kepolisian Negara menjadi Kepolisian Republik Indonesia maka pada tahun 1962 menjadi Angkatan Kepolisian Republik Indonesia(AKRI) dan terakhir dengan kepres RI No. 52 pada tanggal 1 juli 1969 sebutan AKRI dirubah menjadi Kepolisian Negara Republik Indonesia maka kekuatan bersenjata RI yang terdiri dari TNI AD, ALRI,AURI dan POLRI disebut Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.

Demikian pokok ringkasan sejarah Korem 072 yang terbentuk karena perkembangan situasi. pada dasarnya sejarah berubah mengikuti perkembangan situasi. Ini membuktikan, bahwa organisasi militer kita itu dinamis tidak begitu saja mengikuti organisasi yang sifatnya konvensional seperti organisasi militer pada kebanyakan Negara.

Kita pernah mempunyai organisasi divisi seperti pada tahun 1945s/d 1950. Padahal ditahun 1945pemuda-pemuda kita tidak pernah mendapatkan pendidikan mengenai organisasi kesatuan besar. Paling kita hanya mendapatkan pendidikan organisasi s/d kompi. Tetapi pada waktu itu kita tidak hanya mampu membangun organisasi peleton, Kompi dan Batalyon saja. Tetapi prestasi kita yang terbesar adalah kita membangun resimen dan divisi bahkan tentara

Mungkin ini yang kurang dimengerti oleh Negara-negara lain. Dengan segala kemampuan kita, kita mencoba untuk menyesuaikan organisasi militer kita dengan kebutuhan dan kemampuan kita sendiri. Seperti organisasi KOREM,KODIM dan KORAMIL hanya ada dinegara kita. Disamping profesionil kita juga harus bisa berfikir dan bertindak secara improvisoris.

LAHIRNYA PRAJURIT SUKARELA PETA

(PEMBELA TANAH AIR) DI INDONESIA

 

A.   PENGANTAR

Lahirnya PETA didorong oleh beberapa faktor suwarsana peristiwa besar sebagai berikut:

Perang Dunia ke II (1937-1945) antara SEKUTUN(A.B.C.D) melawan AS (italia, Djerman dan Jepang) baru berjalan 10 (sepuluh)hari, Negara belanda yang ikut pihak sekutu, diduduki tentara Djerman, Pemerintah Belanda di Nederland pergi mengungsi ke Negeri Inggris(SEKUTU=B.) Pemerintah Hindia Belanda di Indonesia menjadi goyah.

Pada masa dan dalam suasana demikian itu, atas bimbingan para pemuka nasional dan para pemuka Agama Islam,Jiwa dan semangat  kebangsaan para pemuda dan bangsa Indonesia makin berkobar untuk menuju Indonesia Merdeka yang kebangkitanya bergerak semenjak 1908 dan sumpah pemuda 28-10-1928.

Bala Tentara Jepang dengan semangat busidonya (cinta tanah air) bergerak cepat segera mendapat kemenangan, menguasai, disamping daratan Cina bagian timur, Korea dan juga daerah Asia (Timur, Selatan, Tenggara) karena pada awal pertempuran, secara licik sudah terlebih dahulu berhasil melumpuhkan armada laut/udara, perbekalan perang Amerika dikepulauan Pear Harbur melalui pengeboman dari udara. Sebelum menduduki Indonesia, Jepang sudah mengelabuhi bangsa Indonesia dengan melagukan Indonesia Raya dari Tokiyo dan mengemukakan simpati kepada bendera merah putih. Tentara Hindia Belanda di Indonesia, hanya mampu 7(tujuh) hari menghadapi serbuan tentara Jepang. Pada tanggal 8 maret 1942 tentara beserta Pemerintah Hindia Belanda bertekuk lutut dengan tidak bersyarat di Kalijati Bandung kepada Balatentara Pendudukan Jepang Komando 16 Asia Tenggara.

Semenjak menduduki Indonesia, Jepang berbalik melarang dikumandangkannya lagu Indonesia Raya dan berkibarnya sang merah putih. Ternyata tentara Jepang yang semula bergerak secara opensif berubah bergerak secara depensif karena tentara Amerika mulai mendapat kemenangan dibagian Timur Asia bahkan angkatan daratnya sudah menduduki Papua Timur(New Ginia)

Dalam keadaan demikian untuk memperkuat pertahanan terutama di sumatera dan di Jawa, Jepang berniat membentuk kekuatan cadangan terdiri dari pemuda-pemuda Indonesia. Dimulailah melatih pemuda-pemuda Indonesia dalam latihan para militer pada Seinendan dan Keibodan. Bahkan jepang membentuk Heiho (Pembantu Tentara Jepang digaris pertempuran,sebagian besar direkrut dari para bekas tentara Legiun KNIL)

 

B.  VISI PEMBENTUKAN PETA

Menghadapi gelagat defensifnya tentara Jepang melawan sekutu, pemuka nasinal dan pemuka Agama Islam tidak tinggal diam.

Pada bulan september 1943,Bung Karno, Bung Hatta, K.H. Mas Mansur, Ki Hajar Dewantara (Pimpinan Empat Serangkai) dan Gatot Mangkupradja telah mengajukan Kepada Pemerintah Jepang agar diberi kesempatan membentuk “Pasukan Sukarela” atau pasukan “pembela Tanah Air”’

Motivasi Jepang agar terbentuk kekuatan pertahanan di sumatera dan Jawa untuk melawan SEKUTU yang terdiri dari bangsa Indonesia dilaksanakanlah dengan Dekrit OSAMUSIREI tanggal 3 Oktober 1943 oleh STAF UMUM  MARKAS BESAR Tentara Jepang Komando Asia Selatan dan Asia Tenggara,maka lahirlah tentara PETA (Pembela Tanah Air) di Jawa dan Gyugun di Sumatera.

Sedangkan motivasi para pimpinan Nasional bangsa Indonesia bertujuan,bahwa melalui OSAMUSIREI 2 Oktober 1943 agar para pemuda dan bangsa Indonesia dapat kesempatan berlatih dan memndapat pengetahuan kemiliteran guna bekal kekuatan untuk memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia. Ditegaskan oleh Bp Moh Hatta dalam pidatonya pada rapat akbar bangsa dan golongan Pemuda Indonesia dilapangan IKADA(MONAS)Jakarta pada tanggal 2 November 1943.

 

Demikian sekilas,paparan lahirnya PETA/GYUGUN, berakhibat kebangkitan jiwa keprajuritan yang berguna bagi benteng Kemerdekaan Indonesia.

Related Post